MARSIGIT PHILOSOPHY 2019 - IMROATUS SYARIFAH (TUGAS AKHIR 2)
TUGAS AKHIR BAGIAN 2
MAKALAH
PENJELASAN FILOSOFIS PERMASALAHAN
PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Mata Kuliah - Dosen Pengampu :
Filsafat Ilmu - Prof. Dr. Marsigit, M.A.
disusun oleh :
IMROATUS SYARIFAH
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pada dasarnya manusia sebagai makhluk hidup berpikir dan selalu berusaha untuk mengetahui segala sesuatu, tidak mau menerima begitu saja apa adanya sesuatu itu, selalu ingin tahu apa yang ada dibalik yang dilihat dan diamati. Segala sesuatu yang dilihatnya, dialaminya, dan gejala yang terjadi di lingkungannya selalu dipertanyakan dan dianalisis atau dikaji. Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat yaitu keheranan, kesangsian, dan kesadaran atas keterbatasan. Berfilsafat kerap kali didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas.
Filsafat memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada tiga peran utama yang dimiliki yaitu sebagai pendobrak, pembebas, dan pembimbing. Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa, maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapat berfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal. Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan. organis, harmonis, dinamis. guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.
Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Filsafat pendidikan tidak akan terlepas dari kajian Ilmu Filsafat. Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Dalam tulisan ini akan membahas tentang objek dan fenomena pembelajaran yang ada di sekolah yang dijelaskan secara filosofis dan mengidentifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah.
B. Rumusan Masalah
1. Apa penjelasan filosofis tentang suatu objek matematika di sekolah?
2. Apa penjelasan filosofis tentang fenomena pembelajaran matematika di sekolah?
3. Bagaimana identifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui penjelasan filosofis tentang suatu objek matematika di sekolah.
2. Untuk mengetahui penjelasan filosofis tentang fenomena pembelajaran matematika di sekolah.
3. Sebagai identifikasi permasalahan pembelajaran matematika di sekolah.
A. PENJELASAN FILOSOFIS
1. Penjelasan Filosofis terhadap Objek Matematika di SMP
Pembelajaran matematika di SMP memiliki lingkup yang cukup luas, salah satunya yaitu objek geometri khususnya lingkaran. Secara matematika, lingkaran memiliki beberapa makna. Pertama, lingkaran adalah himpunan titik-titik pada bidang datar yang berjarak sama dari suatu titik tetap di bidang tersebut. Kedua, lingkaran adalah sebuah garis lengkung yang bertemu kedua ujungnya sedangkan semua titik pada garis tersebut sama jauh letaknya dari sebuah titik tertentu. Ketiga, lingkaran adalah sebuah bidang datar yang memiliki simetri lipat sebanyak tak terhingga.
Dalam kehidupan, lingkaran memiliki makna tersendiri. Lingkaran adalah suatu hal yang mengikat keseluruhan dari kehidupan, baik dari sisi positif maupun sisi negatif. Lingkaran yang dapat disimbolkan dengan roda pun sering dijadikan perumpamaan, seperti ungkapan, “Jangan sombong! Roda kehidupan selalu berputar, terkadang kamu akan berada di posisi teratas dan suatu ketika akan berada di titik terbawah.”
Dalam kehidupan, Tuhan tidak memberi cobaan baik dalam bentuk kenikmatan maupun maupun kesengsaraan. Kenikmatan dapat dirasakan dalam bentuk kekayaan, jabatan, atau hal paling sederhana adalah nikmat sehat. Kesengsaraan dapat berupa sakit, kemiskinan, atau hanya terjatuh dalam kubangan sampah. Mengapa kubangan samah? Kubangan sampah disini dapat berarti kotor dan bau. Bau tersebut adalah frase mengikat yang berarti hinaan atau hal-hal yang tidak kita kehendaki terjadi di dunia nyata.
Kembali pada pernyataan roda itu berputar, kalimat tersebut mengartikan bahwa Tuhan selalu menginginkan yang terbaik bagi yang diciptakannya. Bagaimana cara menggapainya? Berdoa dan ikhtiar. Ikhtiar ini sejalan dengan istilah vital pada filsafat dimana manusia memiliki wewenang untuk memili jalan hidupnya, tidak hanya berpangku tangan menunggu takdir yang akan diterimanya.
Lebih dalam lagi, lingkaran dapat dihubungkan dengan Hermeneutics pada filsafat, seperti yang telah dijelaskan oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A. pada perkuliahan sebelumnya. Hidup ini dapat digambarkan dengan garis dan lingkaran hermeneutika. Garis melambangkan teori atau idelaita kehidupan sedangkan lingkaran hermeneutika menggambarkan praktik atau relaita kehidupan yang terjadi. Lingkaran heremenetika ini sebenernya tidak seperti lingkaran pada matematika dimana kedua ujungnya menyatu. Pada filsafat, lingkaran heremeneutika digambarkan dengan bentuk spiral yang menandakan proses dari masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang.
Hermeneutika ini digunakan di setiap kehidupan. Bisa juga dikatakan bahawa hermeneutika adalah proses menerjemahkan suatu kegiatan. Proses menerjemahkan ini akan selalu berkembang tetapi dapat juga mengerucut. Dalam melakukan hermeneutika pada pembelajaran matematika, kita akan bertemu dengan banyak reduksi. Maksud dari reduksi adalah menentukan pilihan. Kita akan memilih mana yang seharusnya diajarkan kepada siswa sekolah dan mana yang tidak seharusnya diajarkan, karena matematika bersifat abstrak, maka dibutuhkan pereduksian dalam membelajarkannya. Oleh karena itu dalam membelajarkan matematika, sebaiknya kita paham dalam menyesuaikan ruang dan waktunya. Matematika bagi anak sekolah itu sebenarnya bukan ilmu tetapi sebuah aktivitas, jadi sebaiknya melibatkan aktivitas dalam proses pembelajaran. Karena sesulit apapaun pasti ada jalan, seabstrak apapun pasti ada kongkret, dan sesulit pikiran pasti bisa dikatakan atau dibicarakan.
2. Penjelasan Filosofis terhadap Fenomena Pembelajaran Matematika di Sekolah
Pembelajaran matematika di sekolah menjadi pembelajaran yang dianggap paling berat untuk dijalani, terutama bagi siswa. Mengapa demikian? Karena siswa mengalami kesulitan belajar. Menurut Djamarah (2003), kesulitan belajar adalah keadaan dimana peserta didik tidak dapat melakukan proses belajar dengan baik karena adanya gangguan atau ancaman yang berasal dari faktor internal maupun eksternal. Secara terperinci, Soejono menyebutkan bebeapa kesulitan dalam belajar matematika diantaranya : (a) kesulitan dalam menggunakan konsep, (b) kesulitan dalam menggunakan prinsip, dan (c) kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal.
Kesulitan-kesulitan yang disebutkan oleh Soejono dapat dikaitkan dengan prinsip yang dikemukakan oleh Immanuel Kant yaitu tentang a priori dan a posteriori. Pembagian a priori dan a posteriori atas dasar bagaimana mengetahui proposisi tertentu dan bagaimana justifikasi atas proposisi tersebut (Guyer, 2010). Sebuah proposisi diketahui secara a priori apabila proposisi tersebut dapat diketahui secara independen terhadap pengalaman dan pengamatan empiris. Satu-satunya hal yang digunakan dalam menjustifikasi proposisi a priori adalah penalaran dan tidak harus memiliki pengalaman secara langsung untuk mendapatkan suatu pengetahuan. Prinsip yang kedua adalah justifikasi a posteriori. Sebuah proposisi dapat diketahui secara a posteriori jika dibutuhkan adanya data-data empiris serta pengalaman agar sampai pada proposisi tersebut. Untuk menjustifikasi proposisi a posteriori, tidak bisa dilakukan hanya dengan duduk berdiam diri. Akan tetapi kita harus melihat sendiri adanya kenyataan di dunia nyata atau dengan kata lain pengetahuan didapat setelah adanya pengalaman yang dialami secara langsung. Apa kaitannya a priori dan a posteriori dengan kesulitan belajar yang dinyatakan oleh Soejono? Mari kita bedah satu per satu.
Kesulitan dalam menggunakan konsep. Siswa sebenarnya telah mendapatkan pengetahuan tentang konsep, misal konsep pythagoras. Namun, ketika dihadapkan dengan permasalahan yang berhubungan dengan konsep tersebut, siswa masih bingung dalam penggunaannya. Hal ini dapat berarti siswa belum memiliki prior knowledge yang cukup dan juga belum banyak memiliki pengalaman dalam menyelesaikan permasalahan menggunakan konsep. Dengan kata lain, siswa belum cukup a priori dan a posteriori dalam menggunakan konsep matematika untuk memecahkan permasalahan.
Kesulitan dalam menggunakan prinsip. Kesulitan ini mencakup siswa tidak mempunyai konsep yang dapat digunakan untk mengembangkan prinsip sebagai butir pengetahuan yang perlu, siswa miskin dari konsep dasar secara potensial merupakan sebab kesulitan belajar prinsip yang diajarkan dengan metode kontekstual (contoh nyata), dan siswa kurang jelas dengan prinsip yang telah diajarkan.
Kesulitan memecahkan soal berbentuk verbal. Keberhasilan dalam memecahkan persoalan berbentuk verbal tegantung kemampuan pemahaman verbal, yaitu kemampuan memahami soal berbentuk cerita dan kemampuan mengubah soal verbal menjadi model matematika, biasanya dalam bentuk persamaan serta kesesuaian pengalaman siswa dengan situasi yang diceritakan dalam soal. Kesulitan ini juga dapat diakibatkan dengan kurangnya pengalaman dalam mengerjakan soal-soal bentuk cerita atau dapat dikatakan siswa belum memiliki prinsip a posteriori. Kurangnya pengalaman ini mengakibatkan kurangnya mendapatkan pengetahuan secara utuh.
Secara filsafat, menurut Marsigit (2014) kesulitan dapat dimaknai kendala seseorang dalam usahanya menembus ruang dan waktu. Jika dikaitkan dengan kesulitan belajar, siswa berada pada ruang dan waktu yang berbeda dengan guru sehingga menyebabkan tidak ada sinkronisasi informasi antara siswa dan guru. Siswa membutuhkan usaha lebih untuk menembus ruang dan waktu sang guru untuk memperoleh maksud dan tujuan yang ingin disampaikan oleh guru.
B. IDENTIFIKASI PERMASALAHAN FILOSOFIS PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH
Rendahnya kualitas pembelajaran matematika akan berdampak terhadap rendahnya hasil belajar siswa, hal ini ditemukan oleh banyak faktor yang secara umum terdiri atas faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar guru, misalnya; kurikulum, daya dukung, pembelajaran, dan faktor lainnya. Sedangkan faktor internal adalah faktor yang berasal dari diri guru itu sendiri, misalnya kemampuan guru matematika dalam mengemas pembelajaran.
Oleh karena itu guru perlu mendapat pembinaan dengan media audio visual. Dari proses pembinaan dengan media audio visual tersebut dapat meningkatkan kemampuan guru dalam melaksanakan pembelajaran matematika terutama pada aspek kegiatan pendahuluan (membuka pelajaran), kegiatan inti, penguasaan materi pelajaran, penggunaan teknik tanya jawab (interaksi), pengolahan kelas/waktu/materi, penggunaan media belajar, penggunaan bahasa, dan penilaian belajar.
Konten matematika adalah hal yang abstrak dan objek dasar matematika meliputi fakta, konsep, prinsip, skill, dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam penyampaian materi ini jelas guru harus memperhatikan siswanya. Untuk itu perlu suatu cara yang tepat agar siswa dapat memahami dengan baik dan benar, sehingga siswa akan memiliki pengalaman belajar yang bermakna. Selain itu, siswa juga diharapkan dapat memunculkan ketertarikannya dalam pembelajaran matematika dengan kesadarannya sendiri, bukan paksaan.
Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu pengkajian lebih dalam tentang bagaimana cara menumbuhkan sikap ketertarikan siswa terhadap pembelajaran matematika terutama dari segi filosofisnya. Pengkajian dari segi filosofis akan menjadikan segala sesuatu disandarkan kepada konteks baik itu berupa kebaikan sosial, local wisdom, social impact, rasionalitas, dll. Ketika sudah kembali pada konteksnya, maka akan menjadi titik pencerahan untuk perbaikan pembelajaran di masa yang akan datang.
PENUTUP
Filsafat mencakup semua ilmu, terlebih dalam filsafat pendidikan khususnya dalam pembelajaran di sekolah. Dengan penerapan filsafat dalam pembelajaran di sekolah, maka proses belajar mengajar akan berjalan dengan efektif dan efisien. Filsafat memberikan keuntungan bagi guru dan juga siswa. Bagi guru, dengan adanya pelajaran filsafat, maka guru akan lebih memahami karakter dari siswa-siswanya. Belajar filsafat adalah berpikir, sehingga guru dapat mengetahui sejauh mana pola pikir siswa-siswanya dalam memahami matematika dan dapat memperkirakan apa yang menjadi kesulitan siswa dalam belajar matematika.
DAFTAR PUSTAKA
Imam Barnadib. 1996. Filsafat Pendidikan . Yogyakarta : Aditya Karya Nusa.
tulisan yang bagus Myo, lanjutkan... saya senang dengan semangatmu menulis, ditunggu postingan lainnya
BalasHapus